𝔹𝕦𝕒𝕥 𝕂𝕒𝕞𝕦 🦋

Selamat ulang tahun.. Makin bertambah berkat dan juga sukacita. Uda memasuki angka awal yang berbeda, wah selamat. Bijaksana dan selalu baik hati.

2 bulan yang lalu aku sempat berpikir mungkin ulang tahunmu kali ini kita bisa bertemu, ternyata covid19 mengubah banyak hal, tak hanya harapanku, rencanaku. Covid19 juga mengubah pola hidup dan pola pikir dari setiap manusia. Dan juga aku tak bisa memberikan sesuatu yang mungkin akan membuatmu tersenyum dihari ini. Awalnya aku ingin mengungkapkan ini semua langsung ke kamu lewat chat, tapi ke panjangan lalu kuputuskan menulis disini, mungkin suatu saat kamu akan mampir di halaman ini.

Beberapa hari lalu aku berpikir apa aku kirim buket bunga saja, atau sekotak donut, tapi aku ragu itu akan membuatmu senang atau malah merasa bahwa aku berlebihan. Lalu aku memutuskan tak melakukan apa-apa selain mengucapkan ini. Ini hadiah dari aku untuk mu, diulang tahunmu kali ini, meski aku menuliskan ini 3 tahun lalu di handphone mu, iya tepatnya di whatsAppmu di privasi-status WA kamu bisa melihatnya disana tertulis Pengharapan. Ia itu aku yang nulis waktu itu. Selama waktu yang sangat panjang dan sulit ini aku selalu mengandalkan kata itu, setiap kali aku mampir ke profilmu aku selalu teringat waktu aku menuliskannya. Terimakasih belum menggantinya. Itu hadiah dari aku buat kamu, agar kamu, aku juga tetap hidup di dalam pengharapan.

Karena ada tertulis;

Pengharapan adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir. Ibrani 6:19
Dan di Roma 5:2-5 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Didalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu meninbulkan ketekunan. Dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengaharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.



Semoga kamu tidak menertawakan aku saat kamu membaca ini. Sekali lagi aku ucapkan selamat ulang tahun. Bahagialah selalu. Aku mengasihimu. Tuhan memberkati.
                                                     Regards
                                                   Visi Bestari

Medan, 5 Mei 2020
  00.10 AM
       

Just say hi,

Hai, apa kabar kamu? Beberapa waktu lalu aku bermimpi sesuatu yang sangat aneh tentang kamu dan aku. Mimpi yang sempat membuatku sangat gelisah dan sedikit terlihat bodoh. Sempat terlintas di benakku untuk bertanya kabarmu langsung, namun kuurung. Karena saat-saat seperti ini kita mungkin bisa saling menebak keadaan kita masing-masing. Iya, kekacauan yang sedang terjadi saat ini, yang sedang terjadi di dunia, dan sekarang mematikan setiap partikel kegiatan ku 2 bulan belakangan. Covid 19 yang terjadi sekarang tidak hanya mengkrisiskan perekonomianku, mungkin juga kamu, mereka, atau semua dari kita yang berada di Indonesia. Hal ini juga menyebabkan keberanianku krisis untuk saling bertegur sapa.

Covid 19 bisa dengan begitu mudah melemahkan setiap hal dari kita. Aku jadi teringat hari-hari ku di penghujung tahun lalu ketika aku memiliki waktu dan kesempatan bertemu banyak orang, temanku yang sempat mengunjungiku dari Karimun, lalu pertemuan kita diakhir bulan 12 lalu, sempat membuat koneksi diantara kita membaik hingga akhirnya corona dinyatakan telah melebar luas di Indonesia pertengahan Maret lalu. Mengingat semua perjalanan tersebut ada senyum kecut yang membuatku meneteskan air mata lalu membuatku sadar “seharusnya aku bersyukur”. Iya, akhir Desember hingga awal memasuki Januari aku masih merasakan bunga indah bermekaran dihatiku. Aku menutup tahunku waktu itu dengan senyum manis darimu dan di Januari juga aku masih tetap melihat senyuman manis itu, bahkan dibulan itu juga aku bertemu dengan beberapa teman di waktu SMA dulu, pertemuan yang sudah lama tak terjadi. Hingga di bulan Februari aku ada Di Jakarta, kota ramai dan padat, aku melakukan yang membuat sesuatu dari dalam diriku bangga, dan juga disana aku bertemu sahabat masa kecilku, iya kedua sahabat yang sudah kumiliki dari SD sampai sekarang dan kami tak pernah bertengkar sekalipun, itu sangat membuatku bahagia. Sangat. Sangat bahagia. Aku mengucapkan terimakasihku kepada semesta ketika aku duduk diatas kreta abg gojek yang mengantarku menemui mereka. Ku menatap langit cerah kota Jakarta hari itu. Aku juga tersenyum lebar mengingat begitu aku pulang ke Medan aku bertemu kamu kembali. Gimana tidak aku sebahagia itu, dalam waktu 2 bulan berturut-turut aku bertemu orang-orang yang sudah lama tidak bertemu denganku dan mereka sangat dekat denganku.

Meski di akhir Februari aku kembali meneteskan air mata, karena kita harus pisah kembali oleh pekerjaan masing-masing, aku tetap menjalani hari-hariku dan berharap semua akan seperti harapan kita. Tanpa ku sadari waktu berlalu begitu cepat dipertengahan Maret, sempat membuatku merasa acuh, it’s ok. Jangan khawatir, ga akan kena. Ternyata tak butuh waktu lama corona mematahkan semua kesombongan yang sempat ku miliki dan merubahku menjadi takut ketika aku mendapat kabar tempatku bekerja harus ditutup sampai waktu yang tidak ditentukan, dan ini sudah berjalan hampir 2 bulan. Tidak tahu kenapa rasa takut itu sering datang dan pergi, seperti rinduku padamu. Tapi sesekali kadang kuteringat padamu, dan ku menyebut namamu semoga kamu dalam keadaan sehat dan tetap diberkati. Semoga dilain waktu kita bisa bertemu lalu duduk sambil minum kopi dan bertukar cerita satu sama lain seperti yang selalu kita lakukan. Hi, iya aku tak tahu mengapa tentangmu selalu saja spesial bagiku, dan entah kenapa ketika kegelisahan ini tentangmu selalu ingin ku tuliskan. Salam dariku yang juga baik-baik saja. Tuhan memberkati kita. Bapa kasihanilah kami. Medan. Visi Bestari Sinaga.

A Remember

Hari ini, 17 November tepat jam 23.40 Wib, aku sedang membaca buku sambil diiringi musik dari laptop usangku. Lagi asik membaca,mungkin kebawa perasaan karena yang kubaca adalah bukunya Stephen Arterburn “healing is a choice” tiba-tiba saja air mataku menetes mengingat 6 hari kedepan adalah sebuah hari peringatan buatku, harusnya juga buat keluargaku terutama mama, karena tepat hari itu perjuangan dia untuk membawaku kedunia ini berhasil, ya aku lahir 23 November, itu artinya 6 hari lagi aku ber-ulang tahun, dan ini ke 27 tahun (meski dalam hati aku agak ragu menuliskan angka tersebut) usia tidak terbilang belia, tetapi kok rasanya aku masih sangat belia, mungkin karena hingga saat ini segala tujuanku belum tercapai. Yaa, aku berkata demikian, karena sampai detik ini aku belum mencapai semua impianku, belum memiliki teman untuk berbagi hidup dan masa depan atau tepatnya pasangan hidup, iya aku masih sendiri diusia ini.

Kadang ada masa dimana pertanyaan itu datang dari diri sendiri (sampai kapan?, yakin gak apa-apa?), kadang sedih melihat keadaan dan kehidupan yang dijalani setiap hari, pergi kerja pagi pulang malam begitu terus waktu silih berganti. Sampai di kos-an kadang hanya ngumpul kecil bareng teman, nonoton film download -an, nyanyi ga jelas atau sekedar membakar sedikit lemak nakal, dan gak jarang berujung membuka folder lama di laptop melihat kenangan berlalu lalu menangis disudut ruangan. Menangisi sesuatu yang tak jelas, mengingat memori dan berusaha bangkit lagi sendiri. Iya itu adalah gambaran kegiatanku sehari-hari selama 2 tahun belakangan ini.

Mungkin orang melihatku adalah orang yang sangat santai, tapi nyatanya aku tak jarang khawatir dan juga iri melihat sekitar terutama teman-teman yang pada umumnya sudah menikah dan bahkan uda punya bayi-bayi lucu didalam hidupnya. Tapi aku selalu berharap saat nya tiba untukku, menjemput semua impianku, pada waktunya. Ya, karena aku percaya setiap individu memiliki waktu yang berbeda-beda akan semua mimpinya.

Dan, aku juga demikian meski minggu depan usiaku telah berganti aku percaya demikian juga dengan kehidupan kedepannya, berganti lebih baik dan semakin baik. (Dan aku tak mengira, aku mampu mengetik ini dengan air mata menetes dipipi). Haii, sangat haru dan bangga sama diri sendiri, sama semua yang uda kulalui selama ini, tak semua orang mengetahui yang telah kulalui agar sampai pada diriku hari ini, dan tak banyak yang melihat segala air mata yang tumpah demi sampai pada diriku hari ini, yang pasti aku bangga padaku.

Dear Visi, aku mencintaimu dan makin mencintaimu dari dulu hingga nanti, akan kurawat, makin kujaga dan makin kuhargai. Tidak masalah dengan semua kesalahan dimasa lalu, kita perbaiki yang salah, dan semakin semangat, selalu bersyukur dan selalu berdoa melibatkan Tuhan selalu setiap hari. Semakin memelihara sikap kasih, dan selalu bisa memaafkan. Semoga bisa menjadi garam dan terang.

Dear Visi, terimakasih.

Medan, 18 Nov’19


24 Januari 2019

Seperti mentari yang bersinar setiap pagi demikian jugalah kasih Bapa tak pernah terlambat untuk semua orang yang dikasiNya. Berkat, kasih karunia, dan damai sejahtera itulah yang Tuhan janjikan akan Ia berikan kepada setiap orang yang mengasi Dia, yang tetap tinggal di dalam firmanNya dan mematuhinya.

Sedikit mengingat hingga usiaku yang begitu matang sekarang, banyaknya kasih karunia serta berkat melimpah yang bisa aku rasakan di dalam Tuhan, Tuhan Yesus begitu sangat mengasihi dan menyayangiku, dalam hal studiku, pekerjaanku, pengalamanku dan juga keluargaku. Tuhan begitu mempercayakanku hingga hari ini. Jika diingat semua yang sudah kulewati harusnya iman yang kumiliki begitu kuat, tapi nyatanya masih saja sering hati bertanya, Tuhan sebenarnya apa inginMu di dalamku?

Hingga saat ini aku masih sering kurang puas dengan apa yang kudapat. Aku masih sering mengeluh tentang pekerjaanku, dan keluargaku, bahkan sekarang jadi sering bertanya tentang pasangan hidup. Ini berjalan dan berlalu setiap harinya.

Seringku berkata dalam doaku, Tuhan engkau tahu isi hatiku dan inginku, Tuhan Engkau melihat setiap harapan yang kubalut dengan kepercayaan. Jika semua yang aku inginkan tidak ada dalam rancanganMu akan masa depanku, berikan aku hati yang penuh kasih dan tetap penuh, agar iman ku tidak goyah dan luntur agar aku tak kecewa dan tawar hati.

#coretanvisi #katavisi

Medan,

Untuk ku

Tulisan ini terkhusus buat ku sendiri. Ucapan terimakasihku untuk diriku sendiri. Sebagai apresiasi terhadap diriku 🤗

Dear visi,

Terimakasih untuk kedua kakiku yang tetap berdiri utuh dan kuat kemanapun hatiku membawanya, meski kadang terpijak duri, tersandung batu, kadang sampai tidak sadar ada memar dan berdarah. Kedua tangan yang dikarunikan terhadapku, membantuku membuat segalanya sempurna. Kedua mataku yang dengan setia selalu menemaniku dalam melewati apapun, yang selalu memberi tanda bahwa jiwa kadang lelah, dan tak jarang menemaniku dengan air dipipiku. Mulutku yang sekarang ingin kubiasakan untuk berkata lemahlembut, terimakasih dengan mulut ini aku mampu mengungkapkan isi pikiranku dan hatiku. Dan bibirku terimaksih untuk selalu mampu tersenyum. Untuk kedua telingaku, terimakasih telah memberitahu ku hal yang baik maupun kurang baik, semoga kedepannya telingaku dapat menyaring hal yang baik saja untuk sampai kedalam hati dan pikiranku. Terimakasih kepada kelalaku dan seluruh isinya, rambutku yang begitu indah dan wajahku yang begitu unik, karunia Tuhan memang selalu tak terselami 😇 kumiliki hidung meski pesek tetap menawan.

Teruntuk hatiku yang tetap kuat meski berkalikali aku membuatnya remuk hancur, seringkali aku tak bisa mengendalikan pikiran membuat hatiku bekerja lebih keras dalam semua hal.

Terimakasih hatiku, meski sering disakiti tapi hatiku tetap penuh dengan kasih, semoga hatiku tetap mampu mengasihi dan tetap penuh dengan kasih, kasih yang datang dari Yesus. Semoga kedepannya makin bisa mendengar kata hati.

Dan kepada seluruh organ, setiap bagian dan semua dari jarikaki hinga ujung rambut, semoga tetap kuat dan sepakat untuk selalu kuat dan mebguatkan selalu.semoga tubuhku selalu fit dan mampu membawaku ketempat yang paling indah dan bagus dimata Tuhan.

Terimakasih Tuhan udah menciptakan aku sebagai orang yang kuat dan harus teguh 😇 terimakasih untuk diriku sendiri.

Dan untuk hari ini, tepat hari ini 26 tahun lalu seorang wanita telah rela berjuang demi membawaku kedunia yang penuh perjuangan ini, terimakasih buat cintakasih yang tak putus unttukku, teruntuk mama i love you more than you love me mom 😘

Selamat ulang tahun buatku 🤗 tahun ini aku yakin bahwa akan datang hari-hari bahagia yang dinanti, harus lebih bahagiain diri sendiri, lebih berpengharapan lagi dan harus tetap penuh kasih

Ulangan 28: 8

Tuhan akan memerintahkan berkat atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu. Ia akan memberkati Engkau dinegeri yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu. Amen

Sebuah Perasaan

Perasaan ini entah mengapa masih saja tentang perasaana ini. Ingin sekali rasanya aku menyalahkan setiap partikel di dalam perasaan ini. Tapi bagaimana bisa begitu, perasaan ini adalah perasaanku sendiri, perasaan ini tuannya adalah diriku sendiri, harusnya aku mampu mengendalikannya, harusnya aku adalah kontrolnya, pemengang kendalinya, seperti seorang nahkoda yang memegang kendali sebuah kapal hingga sampai tujuan akhirnya.

Harusnya sudah demikian juga dengan perasaan ini, tapi kenyataanya aku tak mampu mengontrolnya, tak mampu ku kontrol arahnya, hingga aku hanyut dalam badai gelombang perasaanku sendiri. Aku terjebak di dalamnya, aku hilang kendali hingga aku terpuruk sendiri di dalamnya. Untung saja aku masih memiliki mata pengharapan, harapan yang membawaku kedasar imanku, aku membangkitkan imanku di tengah perasaanku yang terpuruk, perasaan yang tak mampu ku kontrol. Aku berusaha mengumpulkan semua konsentrasiku, ingatanku dan perasaanku, aku membangkitkan iman di dalam jiwaku. Aku berdoa, memohon sedikit cahaya agar aku tak kalut didalam perasaan yang tak mampu ku kontrol ini. Aku berkata lirih ” Perasaan ini adalah anugerah dariMu, aku mohon bimbingan dari-Mu agar aku mampu menjadi tuan atasnya”. Begitu aku selesai dengan rintih lirihku aku coba membuka mataku, menatap ke langit yang begitu cerah diatas badanku terbaring, aku mencoba mengingat kembali semua berkat yang telah kuterima, semua anugerah dan semua perasaan yang kumiliki begitu kuat, aku berterimakasih kepadaNya sang pencipta segala sesuatu yang sudah ada ataupun yang akan ada di depanku.

Perasaan ini tak bersalah, aku sajalah yang salah mengontrolnya. Sepagi ini aku terluka lagi oleh harapku sendiri, pagi ini aku lirih lagi oleh harapku, dan aku menangis lagi. menangis sejadi- jadinya. Bagaimana tidak ternyata perasaan ini hanya harapanku belaka, tidak perasaanmu seperti bayanganku, perasaanku melahirkan tangis dipipiku. Pagi itu seperti ditulisanku sebelumnya, kau yang berjanji untuk membuat janji, sebenarnya aku mendengar sedikit bisik dari dalam hatiku, itu tidak mungkin, tapi perasaanku menguatkan harapku bahwa hal tersebut akan terjadi, dan aku akan mendapat jawab atas pertanyaanku, dan pagi ini terjawab tak seperti bayanganku. Kau tak menepatinya, kau mengoyak kembali lukaku, kau merubuhkan semuanya, hampir saja aku menegmbalikan rasa percayaku terhdapmu, belum jadi apa-apa sudah rusak kembali oleh ucapanmu yang tak bermakna sedikitpun. Lalu seketika aku tak menyalahkan mu, aku menyalahkan perasaan yang kumiliki, menyalahkan diriku yang tak mendengar kata hatiku dan pesan nasehat dari sahabat-sahabatku. Aku lepas kontrol oleh harapanku yang mempercayaimu kembali.

Di batas sadarku aku menyadari harusnya aku sudah menyelesaikan, harusnya aku sudah tamat dengan hal menegndalikan persaan ini, harusnya aku mampu membuatnya sebagai pelajaran yang sangat berharga dan pendewasaan atas diriku. Aku menyadari banyak hal dari gagalnya hubungan ini, dan kandasnya harapanku yang begitu tinggi atas jalinan cinta diantara kau dan aku. Di satu sisi, perpisahan ini adalah jalan terbaik untuk kita, untuk masa depanku dan untuk kebahagian mu kelak, tapi di dalam perjalanan setiap harinya aku tak mampu mendustai perasaan cinta yang begi kuat yang kumiliki untukmu, kau masih saja sama dimataku. Dari perpisahan ini harusnya aku mampu melihat diriku lebih dalam lagi, harus nya lebih memahami diriku, dan lebih menghargainya lagi. Aku terdiam mengenang kisah diantara kita. tidak ada yang harus dilupakan dan tak ada yang pantas untuk dibenci di kisah masa lampau kita. Hanya saja penerimaan kenyataan akan kandasnya hubungan ini yang sulit untuk diterima oleh hati.

Aku tak ingin lari, aku tak ingin bersembunyi ataupun menutupinya dan berpura-pura bahwa perasaanku sudah berlalu secepat berlalunya hubungan diantara kita, aku ingin menikmati setiap prosesnya, aku ingin menguji perasaanku hingga aku mampu menjadi tuan atasnya, meski kadang perasaanku membuatku terlihat bodoh, sedih dan menyedihkan, tapi aku ingin menamatkannya, aku harus bisa. Aku percaya ada upah terbaik dari setiap usaha yang kita lakukan dalam taraf hidup kita. Aku yakin upah atas perasaanku sendiri akan ku raih ketika perasaanku sudah bisa kukendalikan, aku kan menemukan perasaan yang akan sama kuatnya juga dengan perasaanku. Aku akan disambut oleh perasaan yang baru di depanku. Aku hanya perlu mempersiapkan kekuatan perasaan ku ini.

Kali ini bairlah aku kalah oleh rasa rindu ini, aku akan menyimpannya kembali, akan ku tata ulang lagi. Tak perlu memaksa untuk menuangkannya secepat waktu yang berlalu, keyakinanku akan rumah pelepasan rindu masih tetap ada menggebu di dadaku. Izinkan aku tetap menata rapi rasa rindu ini, aku akan menjaganya.

Terimakasih untuk setiap masa pembelajaran ini alam semesta, aku percaya alam semesta ini akan bekerja sama membawaku ketempat yang pantas untuk sebuah perjalanan hidup yang lebih lagi. Izinkan aku menggapai semuanya.

Terimakasihku untukmu yang tak habis-habisnya membuatku mengerti akan pentingnya sebuah perjuangan. Hidup ini memang sangat penuh dengan misteri yang harus kita lalaui. Pahit, manis, kecut dan tak jarang kita menemui jalan yang begitu curam untuk menemukan sesuatu yang layak kita dapatkan. Ini hanyalah sebuah proses, proses perjalanan hidup yang lebih baik.

salamku, visi Bestari Sinaga.

Medan, 22 Agustus 2018

(nb. aku menghabiskan 3 jam duduk disebuah coffe shop disudut kota ini, dan menerguk 2 gelas kopi untuk menuangkan semua ini. Aku tetap saja aku, yang butuh kopi sebagai pereda lukaku). #Kok Tong

Butuh sembuh seutuhnya..,

Setelah kegelisahan yang sudah berlalu hampir lebih 8 bulan akhirnya ada beberapa pertanyaan yang bisa dijawab dan terjawab sendiri.

Pagi itu, rindu… Tak mampu ku redam lagi, ingin kutumpah semuanya keluar dari pikiran dan hatiku. Ku lihat disana dirimu sedang online, aku beranikan diri, aku kerahkan semua rasa, dan kulunturkan gengsiku hanya untuk melihat wajah yang begitu lama ingin ku sentuh dan ku kecup, begitu layarku berdering tak butuh lama untuk melihat wajah itu, iaa wajah sendu yang mampu melunturkan semua warasku, aku tak berani menatap, aku tertunduk lalu meneteskan air mata, mendengarmu berbicara seperti hatiku dicabik-cabik oleh waktu yang berlalu. Aku tak ingat. Aku tak sepenuhnya mendengar ucapanmu, yang jelas diingatkanku, hanya kata ketika kau ucapkan” yang bicara itu disini di depanmu, kalo ngomong lihat ke sinilaa jangan liat ke tembok, kalo kau benci ga usah juga” semakin deras air mataku menetes, lalu aku memilih menyudahi percakapan itu 😑😑

Lalu seketika aku membaca pesan darimu disana, kau bertanya ada apa?? Aku sangat menyayangimu tapi aku tak ingin menghalangi masa depanmu (kalimat yang sudah sering kudengar setahun terakhir waktu kita masih bersama) aku ga kuat, aku merasa remuk di dalam hatiku. Lalu aku hanya mengetikkan kaliamat yang ada di kepalaku, (terkadang ada rindu yang membuat mu terlihat bodoh), iaa, kenapa ku merasa begitu, hampir setahun berlalu aku menahan rindu, kuredam semua sendiri, sampai akhirnya tak mampu sendiri ku tahan dan meluap begitu saja, ini saatnya boom rindu yg ku simpan siap meledak, untung saja aku tak rubuh olehnya. Aku kembali meraih hpku mencoba mengingat no hp mu, lalu ku ketikkan dan ku coba menghubungimu lewat suara karena ternyata bom rinduku membuatku penasaran. Begitu aku mendengar kata halo darimu, aku sedikit tarik nafas dan membalas sapaanmu, kau berkata aku juga rindu, jangan kamu pikir aku tak rindu (ada segetir lega dihatiku, yang disiksa rindu ini ternyata tak sepenuhnya hanya aku saja) aku sayang kamu dek, begitu lembut halus suara yang kudengar diseberang, aku bisa membayangkan ketika kata itu kau ucapakan tepat di depan wajahku, inginku ulur tangan dan memelukmu erat.

Lalu pembicaraan itu berlanjut dan tak lama, kau bertanya apa aku mau bertemu?? Aku tak menjawab. Lalu kau berkata lagi, iaa udah nanti aku kabarin aku pulang biar kita ketemu (sumpah itu rasanya aku kesenangan sampai aku lupa sakitnya menahan rindu, aku senyum senyum kegirangan dan menanti hari itu tiba) lalu kita akhiri percakapan itu dan kau mengucapkan kata yang selalu membuatku tersenyum (I LOVE YOU, aku tak menyahut aku hanya diam lalu kau bilang lagii iyahh jawablaa omonganku katamu lagi SELAMAT SIANG, I LOVE YOU lalu kujawab dengan selamat siang bg.

Pembicaraan itu selesai. Mampu membuat hariku berwarna seketika. Lalu aku memikirkan bagaimana rasanya bertemu kamu kembali yaa?? Apa aku akan tetap sama seperti dulu kalo ketemu kamu, atau aku akan banyak diam? Atau malah banyak bertanya dan berusaha mempertanyakan semua yang sudah berlalu. Yang jelas yang kupikirkan saat itu adalah kita pasti bertemu dan kita pasti bertemu. Seperti yang selalu ku bayangkan, suatu saat, dihari yang tepat dan waktu yang terbaik akan datang, masa dimana kita tanpa perlu membuat janji untuk berjumpa langit dan bumi akan mempertemukan mu lagi denganku, itu keyakinanku. Saat masa itu datang dibayanganku aku sudah mengiklaskan semuanya, memaafkan semuanya dan sudah siap dengan yang semuanya. Tapi ternyata hari itu kau membuat janji akan bertemu meski belom tahu waktu dan harinya, yang pasti tinggal dalam menghitung hari yang tak lama.

Aku berpikir beberapa hari ini, apa ini waktunya?? Apa sudah siap? Apa ia masih kamu? Apa ia masih aku? Semua bergejolak di pikiranku.Aku memang begitu sangat merindukanmu, aku masih mencintaimu, aku belum bisa menggantimu dengan pria lain di dalam hatiku, aku masih menyimpanmu disini, dihatiku sebagai pria yang masih layak ku panggil cinta.

Lalu apakah iya kita masih?

Hampir setahun berpisah dan sama sekali tak pernah bertegur sapa dan berkomunikasi. Aku memang sangat sedih dan terluka dengan caramu, tapi aku masih mampu bertahan, aku masih punya harapan dan pasti akan menemukan yang terbaik seperti ucapanmu selalu. Aku pasti bertemu dengan masa depanku dan cintaku. Aku mengerti semua cinta akan bertemu pada masanya dan tentu dengan persiapan diri yang lebih matang lagi dan persiapan diri yang siap bertemu orang lagi. Benar cintaku tak sama sekali berkurang sedikitpun untukmu, kau tetap sama disini, tetap niomasiegu. Begitu juga dengan sayang dan doaku untukmu tak ada yang ku ubah. Hanya saja aku takut hatiku dan ingatan ku tak mampu menutup ingatan ttg kekecewaanku terhadapmu, aku takut aku tak benar benar siap dengan semua yang akan terjadi kedepannya. Aku takut yang tersakiti bukan lagi hanya diriku tapi dirimu juga ikut tersakiti oleh ku.

Lalu apa iya, pertemuan kita akan membasuh luka kecewa kita atau hanya rasa penasaran kita saja terhadap sikap satu sama lain. Aku sadar tak semua rasa bisa diselesaikan oleh waktu, kita harus mampu melawan waktu. Tapi mengapa aku takut, jika ini bukan ketulusan hati lagi?

Aku belum seutuhnya sembuh, aku masih butuh waktu untuk sembuh, lukaku belum seutuhnya sembuh, luka itu masih basah dan belum kering. Inginku memang hadirmu yang menyembuhkan semuanya tapi aku ragu hadir mu hanya membuat lukaku menjadi nanah yang susah untuk diobati.

Salahkah jika kita biarkan waktu yang menjawab semuanya? Kita biarkan bumi dan langit yang bekerja untuk mempertemukan kita seperti kahayalanku selalu? Salahkan jika kita saling berharap kita akan bertemu tanpa adanya perjanjian terdahulu? Salahkah jika aku jd ragu?

Aku masih butuh perawatan untuk sembuh. Ini lukaku, biar kurawat sendiri. Biar aku belajar mengobati lukaku sendiri. AKU BELUM SEUTUHNYA SEMBUH DARI LUKAKU!!

Salam sayang rinduku buatmu tak putus-putus seperti doaku yang tak berhenti untukmu dan kebahagianmu.

Visi Sinaga


WRITE TO BE INSPIRATION

Menulis adalah sebuah kata yang sangat familiar kita dengar, kata ini terdengar begitu mudah dilaksanakan, ya, tapi pada praktiknya tidak semua orang mampu menulis, bahkan untuk menulis apa yang sedang dialami juga tidak begitu gampang. Kali ini saya akan berbagi sedikit cara dan manfaat menulis menurut saya.
Seperti yang sebagain orang percaya bahwa menulis adalah sebuah terapi, terapi jiwa tepatnya untuk menahan diri. ketika kita kesal, marah, emosi, sedih, kecewa dan sakit hati atau lagi bahagia, kita dapat menuangkan semua perasaan tersebut melalui tulisan. contohnya, ketika sedang marah atau kecewa kita lebih sering langsung merespons dengan sikap yang tidak baik, kita bisa memaki, atau malah memarahi orang yang membuat kecewa. Padahal sebenarnya kita mampu menahan diri, dari pada memusingkannya kita bisa menuangkan perasaan tersebut kedalam sebuah tulisan. ungkapin apapun yang dirasakan, bisa diawali hanya dengan menulis sebuah diary. Kita dapat memulai menulis dari hal-hal kecil yang kita alami, kita lihat, dan dirasakan setiap harinya.
Menulis adalah sebuah bentuk pembelajaran. ketika menulis sesungguhnya kita sedang belajar. Dengan menulis kita dapat merekam jejak-jejak pemahaman, berbagai kebenaran, juga sebagai pengikat ilmu yang telah kita pelajari. Tulisan akan membuat jejak-jejak sejarah, menulis juga merupakan cara untuk mewariskan mimpi dan cita-cita kepada generasi penerus kita. Seperti kata pepatah lama, “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan karya. Dari sini kita bisa belajar sebagai seorang manusia apa yang akan dikenang dunia ini dari kita? hingga pada saatnya kita meninggalkan dunia ini, kita tetap bisa dikenang oleh karena mimpi, pemikiran, harapan serta cita-cita kita.
well, tetaplah menulis, tetaplah memiliki jiwa semangat menulis. Menuangkan setiap ide-ide yang kita miliki. Mengungkapkan apa yang kita rasakan serta tetap membagikan isnpirasi kepada siapapun dan dunia. Siapa tahu dengan tulisan- tulisan kita bisa mengubah pola pikir orang lain. Karena dengan menulis kita akan tetap belajar dan dengan belajar kita akan tetap berpikir. Seperti sebuah ungkapan “aku berpikir maka aku ada, aku menulis maka aku ada. Lalu apa lagi yang membuat kita menunda untuk menulis, karena dengan menulis kelak orang-orang akan tetap mengingat bahwa ada orang yang meninggalkan karya untuk sepanjang zaman, dan orang tersebut itu adalah Anda. Seperti kata seorang sastrawan Indonesia favorite saya ” Orang boleh pandai setinggi langit, tapi jika ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keadadian”.
Promedya saja bilang menulis adalah pekerjaan untuk keabadian, jadi jangan kita tunda lagi, mulai dari kita terdahulu. Kau terpelajar cobalah bersetia pada kata hati.

Medan, Salam menulis

visi sinaga

Rindu.

Rindu…. Mungkin itu yang sedang kualami tiga hari belakangan ini, ketika bulan sudah sampai di puncaknya mataku tak mampu jua ku pejam, dan ketika denyut jantungku semakin kencang berdebar, dan rasa lirih yang kurasakan semakin menerkam. Aku melirik lingkar kecil diatas lemariku sudah menunjukkan pukul 02.00 wib, hatiku gelisah menanyakan bagaimana kabarmu?

Aku bergegas maraih gadget ku, kulihat gambar dilayarnya, aku melihat wajahku disana, senyumku merekah, aku berdiri menunjukkan bahagiaku waktu itu, lalu sebentar kupejam mata, mengingat waktu, dahulu mungkin tepatnya 4tahun belakangan, aku juga masih sering sedih, suka menangis, suka terbangun dini hari, semua kulewati karena sesudah itu kau hadir sebagai terangnya disana, kau ada sebagai peganganku membantu bangkit dan kau masih ada untuk menemaniku menangis, biasanya ketika hal seperti terjadi padaku, aku meraih gadget ku dan mencari namamu berusaha menceritakan semua gelisah ini, tak seperti malam ini, aku malah menangis melihat namamu dikontakku. Ku buka namamu, kulihat disanaa kamu juga masih online dijam yang sama aku tak mampu melawan malam, rinduku semakin tak sanggup kupendam, ingin ku ucapkan kata selamat malam, dan menyuruhmu untuk berhenti memainkan gadget mu karena kamu harus jaga kesehatanmu, aku menangis setelah menyadari ternyata aku hanya mampu mengucapkannya dihatiku, itu hanya terucap dibenakku, karena aku tahu aku tidak berhak lagi atas kehidupanmu. Aku menyingkirkan gadgetku, aku menyudutkan badanku dipinggiran tempat tidurku, aku meraih bonekaku, warbiee.. Malam ini aku begitu merindukannya, lalu aku larut dalam tangis dan airmataku.

Apakah ini hanya aku, hanya aku yang sedang menikmati hukum rindu yang begitu kejam??

Medan, 06-06-2018

🗞🗞

Malam itu, aku lupa tanggal berapa hanya saja aku ingat sepertinya hari kamis awal bulan ini, yaa tepat bulan ini. Ku coba memejamkan mata, memeluk bantal guling yang hampir 4 tahun lebih selalu menemani malamku, iaa guling itu setia, tapi tetap saja mataku melek, kucoba mengganti lampu tidurku, ku putar badan hingga berputar 360° tapi tetap tak mampu ku bawa mataku untuk kedunia mimpi. Aku pun bangkit, mengutak atik siaran televisiku dan tak menemukan siaran yang layak, aku mengalihkan layar tv ku menjadi menu musik dan memilih lagu yang pas buat malam itu, hatiku semakin gelisah terasa padas dibadanku hingga mencucurkan keringat, aku hidupkan kipasku hingga diputaran tombol tertinggi, tak butuh waktu lama menghilangkan keringat yg bercucuran ditubuhku, kembali kumatikan kipasku dan kuraih hp ku yang sejak sampai kamar tak kusentuh, kubuka chat, kubuka ig, hingga rasa ingin tahu kubuka chat kita terakhir x di WhatsApp, membacanya kembali mebuka luka ku yang sedang berusaha ku sembuhkan, aku lihat disnaa last seen nya itu sore sekali, terlintas dipikirku, kamu tak pernah mengingat bahkan memikirkanku, lagi aku kembali menangis. Aku teringat akun Facebook ku yang sudah begitu lama kututup aku buka kembali, tak banyak yang ku lihat, aku langsung buka pencarian dan mengetikkan namamu disana dan melihat berandamu tidak ada yg berubah, kamu tetaplah kamu, aku liat nama dipertemananmu aku melihat nama dia perempuan yang paling getir mulutnya seingatku, ku buka profil nya melihat isi beranda dan betapa terkejutnya aku, melihat postinganmu di berandanya dan beranda beberapa keluargamu, aku terkejut dan langsung merinding, aku bisa merasakan kehilangan itu, iaa aku seperti ada disana disuasana itu aku sedih dan kembali meneteskan air mata dan syookk, dalam hatiku berkata turut berduka cita abang 😶 meski tak begitu dekat aku merasa sedih 😢. Dan aku tak menyangka waktu memang tak ada artinya jika kita tak mempergunakannya dengan baik.

Selamat jalan abgnya abang.

Salamku 👋 visi bestari sinaga